Tips Overkill Pakai Ai
Artificial Intelligence

Tips Overkill Pakai AI #1

Image
Simple Prompt

Anda bisa perhatikan baik2 instruksi yang saya berikan.

Ini adalah simple hack yang super high impact.

Hanya 1x perintah saja, Claude AI sudah generating lebih dari 2000 lines dokumen yang super komperhensif, sampai2 kena limit dan harus di klik continue 2x.

Image
2000+ Lines Document

Yang lebih mencengangkan lagi: itu belum selesai!

Kenapa nggak saya klik continue lagi dan membiarkan AI menyelesaikannya?

  1. Saya tidak butuh se-lengkap itu (saya bukan perusahaan startup kompleks yang punya team, apalagi funding dari venture capital atau semacamnya)
  2. Tidak ingin mendeploy sesuatu yang rumit. Solo founder harus praktis & cepat, efisien ➑ monet. Setelah terbukti menghasilkan baru scale up dan perbaikan.

Jadi Apa Tipsnya?

Saya akan jelaskan singkat mengapa, tapi mohon maaf saya tidak bisa share percakapan tersebut secara lengkap karena beberapa mengandung privasi backend system dan id (saya punya temen hacker handal jadi lebih aware lagi soal informasi bocor seperti ini, wkwk).

1. Pilih Role Spesifik

Jika membangun web services (misalnya), cari tau role yang high impact. Misalnya:

  1. Product Manager / Product Strategist
  2. Solutions Architect / Technical Architect
  3. UX/UI Designer
  4. Backend Engineer
  5. Frontend Engineer
  6. DevOps / Infrastructure Engineer
  7. QA Engineer / Test Automation Specialist
  8. Data Analyst / Growth Hacker

2. Filter Role Sesuai Kebutuhan

Coret dan pilih yang sekiranya paling penting jika kamu seorang individual (bukan organisasi) karena itu bisa consuming energi banyak dan belum tentu kamu memulainya kalau project se-kompleks itu.

Contoh, saya akan mengambil 3 role saja:

  1. Product Manager: Untuk Riset & Menentukan
  2. Solutions Architect: Menentukan guidelines pembuatan website
  3. Senior Programmer: Eksekusi pembuatan website

3. Pilih AI Model Yang Cocok

Jika kamu punya pengalaman lebih, atau punya taste tertentu ketika menggunakan AI, itu bisa jadi kelebihanmu untuk menentukan mana model AI yang sekiranya cocok untuk tugas tersebut.

Contoh role Product Manager, saya lebih suka Perplexity yang mengeksekusinya karena beberapa kali jika melakukan riset dia outperform dari model2 lain.

Tentu saja ada faktor lain seperti: AI berbayar vs gratis. Saya pakai Perplexity pro (via subsidi), jadi kemungkinan besar itulah game-changer-nya.

3. Buat Guidelines

Next, minta AI itu untuk membuatkan dokumen guideline yang akan diserahkan ke {role selanjutnya}.

Jadi Product Manager bertugas melakukan riset > hasil risetnya dalam bentuk dokumen, dokumen ini nanti akan diserahkan ke role berikutnya.

Role selanjutnya pada case saya berarti Solutions Architect / Technical Architect.

4. Berikan Dokumen Ke Eksekutor

Upload dokumen tersebut ke AI yang akan mengeksekusi tugasnya. Jika tugas itu belum selesai (masih ada role yang melanjutkan), maka minta dia membuatkan dokumennya juga.


Dengan begitu one-shot prompt bukan mustahil menghasilkan produk yang diatas 80% siap untuk produksi, karena AI bekerja dengan dokumen yang lengkap dan fokus ke 1 role, bukan cuma dikasih prompt:

Buat website personal portfolio, make no mistake

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Hati-Hati Dengan Halusinasi

AI yang tidak capable di bidangnya akan mengalami halusinasi dan membuat jawaban panjang+tidak berkualitas.

Nah kalau ini saya serahkan ke masing-masing karena saya tidak tau tujuan anda pakai AI untuk apa.

Intinya di era sekarang imajinasi sudah ada dimana2 (yang namanya ide sudah berlimpah), tapi melakukan sesuatu yang berhasil harus ada dasar (data yang bisa jadi acuan).


Sekian & terima kasih, mohon maaf kalau kurang bermanfaat.

Saya sudah bertahun2 tidak nulis jadi mohon dimaklumi kemalasannya. πŸ˜‚

Posted by
Balkis Anton Nurohman

Allohumma Sholli β€˜Alaa Muhammad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *